Senin, 25 Februari 2019


Assalamualaikum Wr. Wb, sahabat ilmu. Bagaiman kabarnya? Semoga selalu dalam lindungan Allah SWT. Amiin ya rabb J

            Minggu lalu kita sudah sedikit membahas tentang penilaian kelas, nah untuk menindaklanjuti materi minggu lalu. . maka sekarang kita akan sedikit membahas tentang domain psikomotorik dalam pembelajaran matematika. Nah, sumber utama yang penulis jadikan acuan yaitu jurnal yang berjudul Analysis Of Psychomotor Domain As A Relevant Factor In The Understanding Of Mathematical Concepts yang ditulis oleh Dr. Rev. A. C. Egereonu.
Nah dalam jurnal tersebut ada beberapa kebutuhan untuk menilai psikomotor dalam matematika:
1.      Untuk validitas konkuren serentak / tinggi
2.      Dasar untuk tugas baru
3.      Psikomotor menempati ruang dan waktu
4.      Hukum kedekatan
5.      Untuk menerapkan konsep konsep Plagets / Bruno ke setiap gerakan dan ikon.
6.      Hukum morfologi antisipasi yang maturing
7.      Untuk menyeimbangkan pengembangan kepribadian untuk tantangan di masa depan.
8.      Deteksi awal masalah yang sedang berjalan
Pada point terakhir, dikatakan bahwa jika ada psikomotorik matematika baik secara verbal, memanipulasi instrumen, dalam sumatif, evaluasi formatif, blok, kesalahan, kesalahan atau ketidaktahuan, dll. Tidak dapat dengan mudah dideteksi untuk koreksi awal; atau jika itu baik, maka dorongan dan konseling adalah profesi yang baik. Ketika seorang anak melakukan tugas / tes (formatif); umpan balik menginformasikan siswa untuk memperbaiki kesalahan, untuk menghindari blokade di masa depan. Jika ada kesuksesan, tahap selanjutnya mengambil alih dan bisa lebih kognitif daripada psikomotor, misalnya garis paralel membuat sudut alternatif, sudut tambahan, sudut yang sesuai, dll. Konsep-konsep ini dapat diubah menggunakan potongan kertas untuk menunjukkan konsep ini sambil mengukur dengan instrumen matematika dari konsep tersebut. Jika tidak jelas bagi siswa, ia kembali untuk koreksi.
Dari penjelasan singkat di atas, menurut analisis penulis bahwa penilaian psikomotorik itu dilakukan tidak hanya sekali dalam setiap KD. Namun hal itu bertentangan dengan sumber kedua yang penulis temukan dalam skripsi yang berjudul Penilaian Afektif Dan Psikomotorik Dalam Pembelajaran Sejarah Di SMA Negeri Se Kabupaten Kendal oleh Ninit Indah Sari.Hasil penelitiannya mengatakan bahwa pengimpelemtasian penilaian psikomotorik dalam kelas , guru bisa menggunakan penilaian berbasis kelas. Selain itu untuk sekolah negeri yang menggunakan Kurikulum 2013, teknik penilaian psikomotorik yang sering dilakukan guru adalah observasi. Sementara itu, penilian psikomotorik dilaksanakan satu kali dalam satu KD. Nilai psikomotrik diambil dari kegiatan diskusi dan tugas peserta didik, sedangkan nilai portofolio tidak dilakukan oleh guru.
            Nah dari pernyataan di atas, muncul pertanyaan penulis mengenai penilaian psikomotorik. 1) Apakah penilaian psikomotorik hanya dilakukan satu kali dalam satu KD ? Jika iya, jelaskan alasannya ! 2) Bagaimana cara mengukur penilaian psikomotorik siswa dalam pembelajaran matematika? . Silahkan tinggalkan tanggapan/pendapat para sahabat ilmu di kolom komentar, sehingga bisa menambah pengetahuan penulis mengenai dua hal diatas. Terima kasih atas partisipasinya dan semoga bermanfaat untuk kita semua.

Wassalamualaikum Wr. Wb



Assalamualaikum Wr. Wb, sahabat ilmu. Bagaiman kabarnya? Semoga selalu dalam lindungan Allah SWT. Amiin ya rabb J

            Minggu lalu kita sudah sedikit membahas tentang penilaian kelas, nah untuk menindaklanjuti materi minggu lalu. . maka sekarang kita akan sedikit membahas tentang domain psikomotorik dalam pembelajaran matematika. Nah, sumber utama yang penulis jadikan acuan yaitu jurnal yang berjudul Analysis Of Psychomotor Domain As A Relevant Factor In The Understanding Of Mathematical Concepts yang ditulis oleh Dr. Rev. A. C. Egereonu.
Nah dalam jurnal tersebut ada beberapa kebutuhan untuk menilai psikomotor dalam matematika:
1.      Untuk validitas konkuren serentak / tinggi
2.      Dasar untuk tugas baru
3.      Psikomotor menempati ruang dan waktu
4.      Hukum kedekatan
5.      Untuk menerapkan konsep konsep Plagets / Bruno ke setiap gerakan dan ikon.
6.      Hukum morfologi antisipasi yang maturing
7.      Untuk menyeimbangkan pengembangan kepribadian untuk tantangan di masa depan.
8.      Deteksi awal masalah yang sedang berjalan
Pada point terakhir, dikatakan bahwa jika ada psikomotorik matematika baik secara verbal, memanipulasi instrumen, dalam sumatif, evaluasi formatif, blok, kesalahan, kesalahan atau ketidaktahuan, dll. Tidak dapat dengan mudah dideteksi untuk koreksi awal; atau jika itu baik, maka dorongan dan konseling adalah profesi yang baik. Ketika seorang anak melakukan tugas / tes (formatif); umpan balik menginformasikan siswa untuk memperbaiki kesalahan, untuk menghindari blokade di masa depan. Jika ada kesuksesan, tahap selanjutnya mengambil alih dan bisa lebih kognitif daripada psikomotor, misalnya garis paralel membuat sudut alternatif, sudut tambahan, sudut yang sesuai, dll. Konsep-konsep ini dapat diubah menggunakan potongan kertas untuk menunjukkan konsep ini sambil mengukur dengan instrumen matematika dari konsep tersebut. Jika tidak jelas bagi siswa, ia kembali untuk koreksi.
Dari penjelasan singkat di atas, menurut analisis penulis bahwa penilaian psikomotorik itu dilakukan tidak hanya sekali dalam setiap KD. Namun hal itu bertentangan dengan sumber kedua yang penulis temukan dalam skripsi yang berjudul Penilaian Afektif Dan Psikomotorik Dalam Pembelajaran Sejarah Di SMA Negeri Se Kabupaten Kendal oleh Ninit Indah Sari.Hasil penelitiannya mengatakan bahwa pengimpelemtasian penilaian psikomotorik dalam kelas , guru bisa menggunakan penilaian berbasis kelas. Selain itu untuk sekolah negeri yang menggunakan Kurikulum 2013, teknik penilaian psikomotorik yang sering dilakukan guru adalah observasi. Sementara itu, penilian psikomotorik dilaksanakan satu kali dalam satu KD. Nilai psikomotrik diambil dari kegiatan diskusi dan tugas peserta didik, sedangkan nilai portofolio tidak dilakukan oleh guru.
            Nah dari pernyataan di atas, muncul pertanyaan penulis mengenai penilaian psikomotorik. 1) Apakah penilaian psikomotorik hanya dilakukan satu kali dalam satu KD ? Jika iya, jelaskan alasannya ! 2) Bagaimana cara mengukur penilaian psikomotorik siswa dalam pembelajaran matematika? . Silahkan tinggalkan tanggapan/pendapat para sahabat ilmu di kolom komentar, sehingga bisa menambah pengetahuan penulis mengenai dua hal diatas. Terima kasih atas partisipasinya dan semoga bermanfaat untuk kita semua.

Wassalamualaikum Wr. Wb


Rabu, 20 Februari 2019

Framework for Classroom Assesment in Mathematic


Assalamualaikum Wr. Wb, sahabat ilmu J
            Pada kesempatan ini, kita akan membahas sedikit tentang evaluasi  pembelajaran matematika. Nah sebelum bicara lebih jauh, tentu kita harus tau dulu apa itu pengertian evaluasi. Oleh karena itu, penulis akan memberikan gambaran sedikit mengenai evaluasi.  Evaluasi merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam meningkatkan kualitas, kinerja atau produktivitas suatu lembaga dalam melaksanakan programnya, termasuk dalam pembelajaran matematika. Ada tiga komponen  yang harus dievaluasi dalam pembelajaran, yaitu pengetahuan yang dipelajari, keterampilan apa yang dikembangkan dan sikap apa yang perlu dirubah. Dan tentunya setiap komponen memiliki alat ukur tersendiri.
Nah kegiatan penilaian di kelas menjadi sangat penting karena hasil penilaian ini secara umum akan berpengaruh pada kualitas pendidikan, dan secara khusus akan berpengaruh pada kualitas pembelajaran, prestasi siswa dan program sekolah. Guru dapat menggunakan hasil penilaian untuk memperbaiki proses belajar mengajar, sehingga lebih baik dan lebih efisien hasilnya. Hasil penilaian dapat diinformasikan kepada siswa sehingga mereka dapat mengetahui materi-materi yang belum dikuasainya, dan dapat mempelajarinya kembali sebagai upaya perbaikan. Sedangkan bagi sekolah, hasil penelitian dapat digunakan untuk menyusun program sekolah untuk lebih meningkatkan prestasi siswanya. Guru membutuhkan informasi yang akurat dan berkesinambungan dalam proses pembelajaran di kelas, dan informasi ini hanya dapat diperoleh apabila guru melakukan penilaian kelas.
Penilaian Kelas adalah penilaian yang dilakukan oleh guru dalam rangka proses pembelajaran (Surapranata dan Hatta, 2004: 5). Penilaian Kelas merupakan salah satu komponen kurikulum berbasis kompetensi. Penilaian ini dilakukan secara terpadu dengan kegiatan belajar mengajar. Penilaian kelas dilakukan dengan menggunakan kombinasi dari berbagai teknik penilaian yang meliputi: pengumpulan kerja siswa (portofolio), hasil karya (proyek), penampilan (performance), dan tes tertulis (paper and pen). Guru menilai kompetensi dan hasil belajar siswa berdasarkan level pencapaian prestasi siswa (Sigalingging, 2003: 45).
Penilaian Kelas merupakan suatu proses Penilaian Berbasis Kelas, yakni proses pengumpulan, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa dengan menerapkan prinsip-prinsip penilaian berkelanjutan, otentik, akurat, dan konsisten dalam kegiatan pembelajaran di bawah kewenangan guru di kelas (Bina Mitra. 2005) Penilaian Kelas mengidentifikasi pencapaian kompetensi dan hasil belajar yang dikemukakan rnelalui pernyataan yang jelas tentang standar yang harus dan telah dicapai disertai dengan peta kemajuan belajar siswa dan pelaporan.
Adapun kriteria Penilaian Kelas yang baik, yakni :
a. Validitas
Validitas berarti menilai apa yang seharusnya dinilai dengan menggunakan alat yang sesuai untuk mengukur kompetensi. Dalam menyusun soal sebagai alat penilaian perlu memperhatikan kompetensi yang diukur, dan menggunakan bahasa yang tidak mengandung makna ganda. Misal, dalam pelajaran bahasa Indonesia, guru ingin menilai kompetensi berbicara. Bentuk penilaian valid jika menggunakan tes lisan. Jika menggunakan tes tertulis penilaian tidak valid.
b.  Reliabilitas
Reliabilitas berkaitan dengan konsistensi (keajegan) hasil penilaian. Penilaian yang reliable (ajeg) memungkinkan perbandingan yang reliable dan menjamin konsistensi. Misalnya guru menilai suatu proyek, penilaian akan reliabel jika hasil yang diperoleh itu cenderung sama bila proyek itu dilakukan lagi dengan kondisi yang relatif sama. Untuk menjamin penilaian yang reliabel petunjuk pelaksanaan proyek dan penskorannya harus jelas.
c.  Terfokus pada kompetensi
Dalam pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang berbasis kompetensi, penilaian harus terfokus pada pencapaian kompetensi (rangkaian kemampuan), bukan hanya pada penguasaan materi (pengetahuan).
d.  Keseluruhan/Komprehensif
Penilaian harus menyeluruh dengan menggunakan beragam cara dan alat untuk menilai beragam kompetensi peserta didik, sehingga tergambar profil  kompetensi peserta didik.
e.  Objektivitas
Penilaian harus dilaksanakan secara obyektif. Untuk itu, penilaian harus adil, terencana, berkesinambungan, dan menerapkan kriteria yang jelas dalam  pemberian  skor.
f.   Mendidik
Penilaian dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran bagi guru dan meningkatkan kualitas belajar bagi peserta didik.
Selain kriteria, ada beberapa standar dan prinsip kerangka penilaian kelas dalam matematika yang diterbitkan oleh Dewan Nasional Guru Matematika (NCTM). Beberapa standar tersebut antara lain :
1.      Standar Matematika
Pada standar ini, penilaian matematika harus berfokus pada pentingnya matematika. kecenderungan matematika ke arah konsep yang lebih luas dan kemampuan matematika menimbulkan pertanyaan serius tentang kesesuaian matematika tercermin dalam sebagian besar tes sebelumnya karena matematika yang umumnya jauh berbeda dari matematika yang benar-benar digunakan dalam pemecahan masalah dunia nyata.
2.      Standar Pembelajaran
Standar kerangka penilaian untuk pekerjaan yang ditanamkan dalam kurikulum, konsep yang menjadi penilaian harus menjadi bagian integral dari proses pembelajaran dan bukan menjadi gangguan.
3.      Standar Ekuitas dan Kesempatan
Penilaian harus memberikan setiap siswa kesempatan yang optimal untuk menunjukkan kekuatan matematika. Dalam prakteknya, bagaimanapun, tes standar tradisional terkadang telah bias terhadap siswa dari latar belakang tertentu, kelas sosial ekonomi, kelompok etnis, atau jender (Pullin, 1993). Ekuitas menjadi semakin bermasalah ketika hasil penilaian digunakan untuk label siswa atau menolak akses ke program, program, atau pekerjaan. Lebih banyak tanggung jawab guru berarti lebih banyak tekanan pada guru untuk menjadi lebih tangan dan berisi dalam penilaian mereka.
4.      Standar Keterbukaan
Penilaian harus dilakukan secara terbuka. Artinya siswa perlu mengetahui apa  yang diharapkan oleh guru pada siswa.
5.      Standar Inferensi
Perubahan dalam penilaian telah menghasilkan cara-cara baru berpikir tentang reliabilitas dan validitas yang berlaku untuk matematika penilaian. Misalnya, ketika penilaian tertanam dalam pembelajaran, itu menjadi masuk akal untuk mengharapkan gagasan standar reliabilitas untuk menerapkan (prestasi siswa pada soal sama di berbagai titik dalam waktu yang sama) karena sebenarnya diharapkan siswa akan belajar di seluruh penilaian.
6.      Standar  Koherensi.
Standar koherensi menekankan pentingnya memastikan bahwa setiap penilaian sesuai untuk tujuan yang digunakan. Seperti disebutkan sebelumnya, data penilaian dapat digunakan untuk pemantauan kemajuan siswa, membuat keputusan instruksional, mengevaluasi prestasi, atau evaluasi program. Koherensi dalam penilaian kelas dapat dicapai cukup sederhana jika proses belajar mengajar menjadi terpadu dan penilaian merupakan bagian integral dari itu.
Sedangkan Prinsip Penilaian Kelas terdiri dari :
a.   Tujuan utama dari penilaian kelas adalah untuk meningkatkan pembelajaran
b.  Matematika  adalah pembelajaran (menarik, edukatif, otentik) masalah yang merupakan bagian dari dunia nyata siswa.
c.   Metode penilaian harus sedemikian rupa sehingga memungkinkan siswa untuk mengungkapkan apa yang mereka ketahui, bukan apa yang mereka tidak tahu
d.  Sebuah rencana penilaian seimbang harus mencakup beberapa dan beragam peluang (format) pada siswa untuk menampilkan dan mendokumentasikan prestasi mereka
e.   Tugas harus mengoperasionalkan semua tujuan dari kurikulum. Membantu alat untuk mencapai  standar kinerja, termasuk indikasi dari berbagai tingkat pemikiran matematis
f.   Kriteria penilaian harus bersifat publik dan diterapkan secara konsisten; dan harus mencakup contoh gradasi sebelumnya menunjukkan contoh dan bukan contoh.
g.   Proses penilaian, termasuk scoring dan dan penentuan, harus terbuka untuk siswa.
h.  Siswa harus memiliki kesempatan untuk menerima umpan balik yang tulus pada pekerjaan mereka.
i.    Kualitas tugas tidak didefinisikan oleh aksesibilitas untuk scoring objektif, reliabilitas, atau validitas dalam arti tradisional tetapi dengan keasliannya, keadilan, dan sejauh mana itu memenuhi prinsip-prinsip di atas.
Nah, dari beberapa materi diatas muncul pertanyaan di benak penulis, yakni “Kemungkinan masalah apakah yang ditemui penulis ketika menerapkan system penilaian kelas dan bagaimanakah caranya mengatasi masalah-masalah yang muncul ketika sedang merancang ataupun menerapkan system penilaian kelas?”
Demikianlah sedikit materi mengenai kerangka kerja penilaian kelas, semoga bermanfaat bagi sahabat ilmu semua. Dan bagi para sahabat yang mempunyai pendapat ataupun argument mengenai pertanyaan penulis, silahkan tuliskan dalam kolom komentar. Terima kasih, Wassalamualaikum, Wr.Wb J

Senin, 04 Februari 2019

Evaluasi Pembelajaran Matematika


Assalamualaikum Wr. Wb, sahabat ilmu J

                Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas sedikit tentang evaluasi  pembelajaran matematika. Nah sebelum bicara lebih jauh, tentu kita harus tau dulu apa itu pengertian evaluasi. Oleh karena itu, penulis akan memberikan gambaran sedikit mengenai evaluasi.  Evaluasi merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam meningkatkan kualitas, kinerja atau produktivitas suatu lembaga dalam melaksanakan programnya, termasuk dalam pembelajaran matematika. Ada tiga komponen  yang harus dievaluasi dalam pembelajaran, yaitu pengetahuan yang dipelajari, keterampilan apa yang dikembangkan dan sikap apa yang perlu dirubah. Dan tentunya setiap komponen memiliki alat ukur tersendiri.
                Nah beberapa hari yang lalu, penulis bersama teman-teman mendapatkan kesempatan untuk merekam salah satu proses pembelajaran matematika di salah satu sekolah menengah pertama (SMP) swasta di Kota Jambi. Hal tersebut dilakukan di kelas IX dengan materi perpangkatan dalam  pembahasan soal-soal ujian nasional. Berdasarkan hasil observasi tersebut, adapun masalah-masalah yang penulis temui yakni siswa pasif ketika proses pembelajaran berlangsung (tidak respon balik yang timbul dari siswa), pembelajaran yang monoton ( teacher center dan tidak ada latihan mandiri), dan pemahaman materi yang belum maksimal.  Nah mengapa demikian bisa terjadi ? hal itu disebabkan oleh strategi/metode yang digunakan guru masih belum bervariasi, tidak ada system latihan mandiri yang diberikan guru kepada setiap individu siswa, siswa banyak mengalami kebosanan dan enggan bertanya sehingga mengakibatkan pemahaman siswa belum maksimal.
                Lalu, bagaimanakah tindakan pencegahannya ? Tindakan pencegahan yang harus dilakukan yaitu : 1) guru harus menemukan strategi yang tepat yang dapat mendorong siswa memaksimalkan kemampuannya menerima dan menyerap materi yang diajarkan, 2) guru harus memancing mereka agar menjadi aktif sehingga anda dapat membaca dan menganalisis sejauh mana tingkat penerimaan mereka terhadap materi yang diajarkan, 3) guru melakukan pengidentifikasian kesulitan siswa dengan memberikan pretest untuk mengetahui pemahaman siswa mengenai materi perpangkatan dan kemudian guru membahas jawaban yang dikerjakan siswa tersebut . Setelah tindakan pencegahan dilakukan, tentu ada solusi dari masalah yang telah penulis paparkan. Menurut penulis solusi yang bisa dilakukan, di antaranya :
1) melakukan pemberian bimbingan psikologi kepada siswa untuk menumbuhkan keberanian dan kecintaan mereka terhadap pelajaran matematika, sehingga bisa dapat memotivasi secara intrinsic pada setiap individu.
2) menerapkan mix methode, seperti menggunakan pendekatan konstruktivisme, saintifik ataupun yang lainnya demi menunjang proses pembelajaran yang terkesan menarik dan tidak menimbulkan kebosanan pada individu siswa.
3) pemberian pengajaran perbaikan untuk membimbing siswa yang masih mengalami kesulitan dalam pemahaman materi dengan cara mengerjakan kembali soal yang salah jawabannya dengan mengerjakan langkah-langkah yang benar sesuai aturannya.
4) pemberian latihan-latihan soal kepada siswa untuk meningkatkan keterampilan belajar, sehingga siswa dapat lebih memahami cara penyelesaian yang benar dan memacu semangat siswa untuk lebih rajin belajar.
5) pengembangan sikap dan kebiasaan yang baik dengan cara menumbuhkan rasa percaya diri siswa untuk mau bertanya terutama pada hal-hal yang belum di mengerti.
                Itulah solusi yang penulis tawarkan, namun ada satu pertanyaan yang masih belum terjawab oleh penulis, yakni “Menurut pendapat pembaca, bagaimanakah cara mengatasi bagi siswa yang daya serapnya kurang maksimal dan adakah solusi lain terhadap masalah di atas selain solusi yang penulis paparkan ?” . Mohon tanggapan, kritikan/saran sehingga bisa menambah pengetahuan satu sama lain. Semoga bermanfaat dan terima kasih J

Wassalamualaikum Wr.Wb

REFLEKSI GUYS :)

PENILAIAN OTENTIK ( Weekly journal) Nama  : Lutfia Maharani NIM    : P2A918021 Materi : Criteria for Authentic Assesment of M...