Assalamualaikum Wr. Wb, sahabat ilmu J
Pada kesempatan ini, kita akan
membahas sedikit tentang evaluasi
pembelajaran matematika. Nah sebelum bicara lebih jauh, tentu kita harus
tau dulu apa itu pengertian evaluasi. Oleh karena itu, penulis akan memberikan
gambaran sedikit mengenai evaluasi.
Evaluasi merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam meningkatkan
kualitas, kinerja atau produktivitas suatu lembaga dalam melaksanakan
programnya, termasuk dalam pembelajaran matematika. Ada tiga komponen yang harus dievaluasi dalam pembelajaran,
yaitu pengetahuan yang dipelajari, keterampilan apa yang dikembangkan dan sikap
apa yang perlu dirubah. Dan tentunya setiap komponen memiliki alat ukur
tersendiri.
Nah kegiatan penilaian di kelas menjadi sangat penting karena
hasil penilaian ini secara umum akan berpengaruh pada kualitas pendidikan, dan
secara khusus akan berpengaruh pada kualitas pembelajaran, prestasi siswa dan
program sekolah. Guru dapat menggunakan hasil penilaian untuk memperbaiki proses
belajar mengajar, sehingga lebih baik dan lebih efisien hasilnya. Hasil
penilaian dapat diinformasikan kepada siswa sehingga mereka dapat mengetahui
materi-materi yang belum dikuasainya, dan dapat mempelajarinya kembali sebagai
upaya perbaikan. Sedangkan bagi sekolah, hasil penelitian dapat digunakan untuk
menyusun program sekolah untuk lebih meningkatkan prestasi siswanya. Guru
membutuhkan informasi yang akurat dan berkesinambungan dalam proses
pembelajaran di kelas, dan informasi ini hanya dapat diperoleh apabila guru
melakukan penilaian kelas.
Penilaian Kelas adalah penilaian yang dilakukan oleh guru dalam
rangka proses pembelajaran (Surapranata dan Hatta, 2004: 5). Penilaian Kelas
merupakan salah satu komponen kurikulum berbasis kompetensi. Penilaian ini
dilakukan secara terpadu dengan kegiatan belajar mengajar. Penilaian kelas
dilakukan dengan menggunakan kombinasi dari berbagai teknik penilaian yang
meliputi: pengumpulan kerja siswa (portofolio), hasil karya (proyek),
penampilan (performance), dan tes tertulis (paper and pen). Guru
menilai kompetensi dan hasil belajar siswa berdasarkan level pencapaian
prestasi siswa (Sigalingging, 2003: 45).
Penilaian Kelas merupakan suatu proses Penilaian Berbasis Kelas,
yakni proses pengumpulan, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil
belajar siswa dengan menerapkan prinsip-prinsip penilaian berkelanjutan,
otentik, akurat, dan konsisten dalam kegiatan pembelajaran di bawah kewenangan
guru di kelas (Bina Mitra. 2005) Penilaian Kelas mengidentifikasi pencapaian
kompetensi dan hasil belajar yang dikemukakan rnelalui pernyataan yang jelas
tentang standar yang harus dan telah dicapai disertai dengan peta kemajuan
belajar siswa dan pelaporan.
Adapun kriteria Penilaian Kelas yang baik, yakni :
a. Validitas
Adapun kriteria Penilaian Kelas yang baik, yakni :
a. Validitas
Validitas berarti menilai apa yang seharusnya
dinilai dengan menggunakan alat yang sesuai untuk mengukur kompetensi. Dalam
menyusun soal sebagai alat penilaian perlu memperhatikan kompetensi yang
diukur, dan menggunakan bahasa yang tidak mengandung makna ganda. Misal, dalam
pelajaran bahasa Indonesia, guru ingin menilai kompetensi berbicara.
Bentuk penilaian valid jika menggunakan tes lisan. Jika menggunakan tes
tertulis penilaian tidak valid.
b. Reliabilitas
Reliabilitas berkaitan dengan konsistensi
(keajegan) hasil penilaian. Penilaian yang reliable (ajeg)
memungkinkan perbandingan yang reliable dan menjamin
konsistensi. Misalnya guru menilai suatu proyek, penilaian akan reliabel jika
hasil yang diperoleh itu cenderung sama bila proyek itu dilakukan lagi dengan
kondisi yang relatif sama. Untuk menjamin penilaian yang reliabel petunjuk
pelaksanaan proyek dan penskorannya harus jelas.
c. Terfokus
pada kompetensi
Dalam pelaksanaan kurikulum tingkat satuan
pendidikan yang berbasis kompetensi, penilaian harus terfokus pada pencapaian
kompetensi (rangkaian kemampuan), bukan hanya pada penguasaan materi
(pengetahuan).
d. Keseluruhan/Komprehensif
Penilaian harus menyeluruh dengan menggunakan
beragam cara dan alat untuk menilai beragam kompetensi peserta didik, sehingga
tergambar profil kompetensi peserta didik.
e. Objektivitas
Penilaian harus dilaksanakan secara obyektif.
Untuk itu, penilaian harus adil, terencana, berkesinambungan, dan menerapkan
kriteria yang jelas dalam pemberian skor.
f. Mendidik
Penilaian dilakukan untuk memperbaiki proses
pembelajaran bagi guru dan meningkatkan kualitas belajar bagi peserta didik.
Selain kriteria, ada beberapa standar dan
prinsip kerangka penilaian kelas dalam matematika yang diterbitkan oleh Dewan
Nasional Guru Matematika (NCTM). Beberapa standar tersebut antara lain :
1. Standar
Matematika
Pada standar ini, penilaian
matematika harus berfokus pada pentingnya matematika. kecenderungan matematika
ke arah konsep yang lebih luas dan kemampuan matematika menimbulkan pertanyaan
serius tentang kesesuaian matematika tercermin dalam sebagian besar tes
sebelumnya karena matematika yang umumnya jauh berbeda dari matematika yang
benar-benar digunakan dalam pemecahan masalah dunia nyata.
2. Standar
Pembelajaran
Standar kerangka penilaian
untuk pekerjaan yang ditanamkan dalam kurikulum, konsep yang menjadi penilaian
harus menjadi bagian integral dari proses pembelajaran dan bukan menjadi
gangguan.
3. Standar
Ekuitas dan Kesempatan
Penilaian harus memberikan
setiap siswa kesempatan yang optimal untuk menunjukkan kekuatan matematika.
Dalam prakteknya, bagaimanapun, tes standar tradisional terkadang telah bias
terhadap siswa dari latar belakang tertentu, kelas sosial ekonomi, kelompok
etnis, atau jender (Pullin, 1993). Ekuitas menjadi semakin bermasalah ketika
hasil penilaian digunakan untuk label siswa atau menolak akses ke program,
program, atau pekerjaan. Lebih banyak tanggung jawab guru berarti lebih banyak
tekanan pada guru untuk menjadi lebih tangan dan berisi dalam penilaian mereka.
4. Standar
Keterbukaan
Penilaian harus dilakukan
secara terbuka. Artinya siswa perlu mengetahui apa yang diharapkan
oleh guru pada siswa.
5. Standar
Inferensi
Perubahan dalam penilaian
telah menghasilkan cara-cara baru berpikir tentang reliabilitas dan validitas
yang berlaku untuk matematika penilaian. Misalnya, ketika penilaian tertanam
dalam pembelajaran, itu menjadi masuk akal untuk mengharapkan gagasan standar
reliabilitas untuk menerapkan (prestasi siswa pada soal sama di berbagai titik
dalam waktu yang sama) karena sebenarnya diharapkan siswa akan belajar di
seluruh penilaian.
6. Standar Koherensi.
Standar koherensi
menekankan pentingnya memastikan bahwa setiap penilaian sesuai untuk tujuan
yang digunakan. Seperti disebutkan sebelumnya, data penilaian dapat digunakan
untuk pemantauan kemajuan siswa, membuat keputusan instruksional, mengevaluasi
prestasi, atau evaluasi program. Koherensi dalam penilaian kelas dapat dicapai
cukup sederhana jika proses belajar mengajar menjadi terpadu dan penilaian
merupakan bagian integral dari itu.
Sedangkan Prinsip Penilaian Kelas terdiri dari :
a.
Tujuan utama dari penilaian kelas adalah untuk
meningkatkan pembelajaran
b.
Matematika adalah pembelajaran
(menarik, edukatif, otentik) masalah yang merupakan bagian dari dunia nyata
siswa.
c.
Metode penilaian harus sedemikian rupa sehingga
memungkinkan siswa untuk mengungkapkan apa yang mereka ketahui, bukan apa yang
mereka tidak tahu
d.
Sebuah rencana penilaian seimbang harus mencakup
beberapa dan beragam peluang (format) pada siswa untuk menampilkan dan
mendokumentasikan prestasi mereka
e.
Tugas harus mengoperasionalkan semua tujuan dari
kurikulum. Membantu alat untuk mencapai standar kinerja, termasuk
indikasi dari berbagai tingkat pemikiran matematis
f.
Kriteria penilaian harus bersifat publik dan
diterapkan secara konsisten; dan harus mencakup contoh gradasi sebelumnya
menunjukkan contoh dan bukan contoh.
g.
Proses penilaian, termasuk scoring dan dan penentuan,
harus terbuka untuk siswa.
h.
Siswa harus memiliki kesempatan untuk menerima
umpan balik yang tulus pada pekerjaan mereka.
i.
Kualitas tugas tidak didefinisikan oleh
aksesibilitas untuk scoring objektif, reliabilitas, atau validitas dalam arti
tradisional tetapi dengan keasliannya, keadilan, dan sejauh mana itu memenuhi
prinsip-prinsip di atas.
Nah,
dari beberapa materi diatas muncul pertanyaan di benak penulis, yakni “Kemungkinan
masalah apakah yang ditemui penulis ketika menerapkan system penilaian kelas
dan bagaimanakah caranya mengatasi masalah-masalah yang muncul ketika sedang merancang
ataupun menerapkan system penilaian kelas?”
Demikianlah sedikit materi mengenai kerangka kerja
penilaian kelas, semoga bermanfaat bagi sahabat ilmu semua. Dan bagi para
sahabat yang mempunyai pendapat ataupun argument mengenai pertanyaan penulis,
silahkan tuliskan dalam kolom komentar. Terima kasih, Wassalamualaikum, Wr.Wb J
Masalah yang saya temukan pada tulisan ini iyalah pada standar pembelajaran matematika ada Suatu cara mengatasi kesulitan belajar, khususnya belajar matematika untuk mempelajari konsep, prinsip dan keterampilan, masalah dihubungkan dengan pengalaman sehari-hari siswa,guru melibatkan siswa dalam membuat generalisasi, guru dalam menjelaskan konsep-konsep matematika kepada siswa menggunakan bahasa yang sederhana dan gunakan alat peraga bila diperlukan serta pembelajaran remedial untuk kesulitan yang sifatnya klasik.
BalasHapusSalah satu kemungkinan permasalahan yang dihadapi yaitu Guru selalu mengutamakan pencapaian target kurikulum. Guru jarang memperhatikan atau menganalisa berapa persen daya serap anak terhadap materi pelajaran tersebut. Cara mengatasinya guru harus memperhatikan keseimbangan antara penilaian kompetensi sikap, keterampilan dan pengetahuan yang disesuaikan dengan perkembangan karakteristik siswa sesuai dengan jenjangnya
BalasHapus