Guru mempunyai tugas untuk memilih model dan media pembelajaran
yang tepat sesuai dengan materi yang disampaikan demi tercapainya tujuan
pendidikan. Namun sampai saat ini masih banyak ditemukan kesulitan-kesulitan yang
dialami siswa di dalam mempelajari matematika,hal ini di karenakan kemampuan
tiap–tiap siswa yang majemuk atau tidak sama dalam memahami suatu konsep
materi pembelajaran.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan penulis di salah satu
Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) Kota jambi, terdapat beberapa masalah yang
penulis temui dalam proses pembelajaran matematika yang dilakukan oleh guru
matematika bersama siswa pada sekolah tersebut. Materi yang sedang diajarkan
ketika observasi berlangsung yaitu materi matriks di kelas XI MIA 1. Beberapa
masalah tersebut, yakni siswa tidak tertarik dan tidak memperhatikan guru
ketika guru menjelaskan. Hal ini dibuktikan dengan “ketika guru sedang
menjelaskan didepan, siswa tidur, sibuk main hp, malas mencatat dan berbicara
kepada teman sebangkunya”. Jika
dikaitkan dengan landasan teoritis tentu tidak berkaitan, terutama pada
landasan psikologis. Dalam landasan psikologis, guru harus memperhatikan
kompleks dan keunikan gaya belajar siswa sehingga dalam proses pembelajaran
tersebut guru harus memilih media yang dapat menarik perhatian siswa dalam
mempelajari matriks.
Adapun masalah kedua yang penulis temui, yakni “guru belum menggunakan
multimedia/media ketika proses pembelajaran matematika berlangsung”. Sedangkan
jika ditinjau dari segi sarana dan prasarana yang terdapat dalam kelas
tersebut, sudah sangat baik. Di dalam kelas tersebut, terdapat audio, layar
infocus, tempat infocus, kipas angin, terminal, serta lingkungan belajar yang
kondusif. Pada saat proses pembelajaran berlangsung, metode yang digunakan guru
yaitu metode ceramah, dimana guru mencatat dan menjelaskan apa yang ia tulis
dipapan tulis, kemudian setelah selesai siswa disuruh mencatat apa yang ada
dipapan tulis. Bahkan ketika siswa diberikan soal, banyak siswa yang masih
mengalami kebingungan dalam melakukan pemecahan masalah matriks. Sehingga
banyak siswa yang memilih bekerja sama/melihat jawaban temannya.
Berdasarkan paparan masalah yang penulis temui ketika observasi,
maka solusi yang tepat dalam mengatasi masalah di atas adalah dengan
menggunakan serta memilih multimedia yang tepat dalam proses pembelajarn
matematika. Salah satunya yakni, guru bisa mengajarkan materi matriks pada
siswa melalui Microsoft power point. Microsoft Powerpoint adalah sebuah program
aplikasi microsoft office yang berguna sebagai media presentasi dengan
menggunakan beberapa slide. Aplikasi ini sangat digemari dan banyak digunakan
dari berbagai kalangan, baik itu pelajar, perkantoran dan bisnis, pendidik, dan
trainer.
Menurut
penulis, power point adalah solusi yang dapat digunakan sebagai media
pembelajaran materi matriks karena sesuai dengan landasan teoritis multimedia
pembelajaran terutama landasan teknologis. Sesuai dengan perkembangan zaman,
tentunya power point sudah tidak asing lagi bagi kita dan bisa digunakan oleh
semua kalangan. Jadi penggunaan
powerpoint dalam proses pembelajaran, bukanlah hal asing lagi bahkan dapat menarik
perhatian siswa, terutama jika ditambahkan permainan di dalamnya.
Contoh 1. tampilan power point
Contoh 2. tampilan permainan
Berdasarkan
paparan di atas, ppt memenuhi prinsip multimedia dan prinsip interaktivitas.
Dimana pada prinsip multimedia, Orang belajar lebih baik
dari gambar dan kata dari pada sekedar kata-kata saja. Karena dinamakan
multimedia berarti wajib mampu mengkombinasikan berbagai media (teks, gambar,
grafik, audio/narasi, video, animasi, simulasi, dll) menjadi satu kesatuan yang
harmonis. Sebab kalau tidak namanya bukan multimedia tapi single-media. Sedangkan untuk prinsip
interaktivitas, Orang belajar lebih baik ketika ia dapat
mengendalikan sendiri apa yang sedang dipelajarinya (manipulatif: simulasi,
game, branching). Oleh karena itu, multimedia pembelajaran harus memungkinkan
user/pengguna dapat mengendalikan penggunaan daripada media itu sendiri. dengan
kata lain, lebih manipulatif (dalam arti dapat dikendalikan sendiri oleh user)
akan lebih baik. Simulasi, branching, game, navigasi yang konsisten dan jelas,
bahasa yang komunikatif, dan lain-lain akan memungkinkan tingkat interaktivitas
makin tinggi.
Baiklah, itulah solusi dari penulis terhadap masalah yang penulis
temui ketika aobservasi. Kepada pembaca jika ada solusi/saran/kritik lain yang
ditawarkan, silahkan berkomentar dan semoga bermanfaat. J


Solusi yg sangat baik dari penulis untuk mengembangkan pola pikir siswa. Yang perlu saya tanggapi di sini saudari penulis lebih banyak memaparkan masalah tentang ketidak tertarikan siswa. Kenapa penulis tidak menggunakan media yang lebih menarik minat belajar. Seperti video motivasi belajar matematika sehingga membangkit gairah ingin belajar dari siswa.
BalasHapusMenurut saya saran penulis menggunakan media powerpoint sangat bagus tapi alangkah lebih baiknya selain menggunakan powerpoint guru juga membawa alat peraga dalam mengajar. Adapun alat peraga yang bisa guru gunakan dalam pembelajaran materi matriks yaitu kotak matriks (bisa dilihat pada video https://www.youtube.com/watch?v=8s-Q_yUxAJc ) karena pada masalah diatas penulis menyatakan bahwa “ketika guru sedang menjelaskan didepan, siswa tidur, sibuk main hp, malas mencatat dan berbicara kepada teman sebangkunya” ini menunjukkan bahwa siswa perlu diajak berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran agar siswa turut aktif dan tidak merasa bosan ketika belajar.
BalasHapus